mgid.com, 605850, DIRECT, d4c29acad76ce94f
banner 728x250

Alam Semakin Kurang Bersahabat, Bupati PH Ajak Masyarakat Jaga Hutan dan Lingkungan

Wartakapuas.id Sanggau – Hampir setiap sore Sanggau dilewati angin badai. Sehingga semakin sering pohon tumbang yang mengakibatkan diantaranya seperti gangguan jaringan listrik dan internet, tanah longsor, dan bencana banjir yang baru baru ini terjadi di Kabupaten Sanggau.

Hal tersebut disampaikan Bupati Sanggau Paolus Hadi ketika hadir sebagai Keynote Speaker (pembicara) pada Webinar Restorasi Bumi Rumah Bersama Dan Paru-Paru Dunia (Refleksi Ecotheology Feminis Kristiani) yang diselenggarakan secara virtual oleh Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI, Sabtu (27/11/21).

“Kalau dulu sangat jarang, karena badai itu tertahan dirimba. Saat rimba sudah tidak ada, tidak ada yang menahannya, sehingga banyak pohon yang tumbang,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Sanggau ini menyebutkan hutan kita, tanah air kita saat ini semakin mengawatirkan. Ia menyebutkan semakan habisnya hutan di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sanggau disebabkan karena fungsi hutan diganti dengan yang lain.

“Karena ada kepentingan soal ekonomi, baik secara perorangan, mau pun pihak lain untuk kepentingan pembangunan, merubah fungsi hutan. Yang seharusnya hutan kita ini berfungsi sebagai hutan, tetapi ada kepentingan pembangunan diubahlah fungsinya,” ujar pria yang kerap di sapa PH ini.

Di sisi lain, ayah empat anak ini menyebutkan menipisnya hutan dikarenakan kurangnya perhatian pemangku kebijakan terhadap masyarakat adat yang menjaga fungsi hutan. Sehingga faktor ekonomi adalah salah satu alasan berubahnya fungsi hutan selama proses pembangunan.

“Orang mau menjaga hutan, tapi nilai ekonominya jadi masalah. Mereka hanya bisa melihat hutan, tapi hasilnya apa untuk ekonomi mereka? Ada yang protes hutan habis, tapi pernahkan orang menghitung O2 yang dikeluarkan hutan itu dan membayar secara layak masyarakat adat yang menjaganya? Hari ini hanya cerita soal O2 yang menjadi bagian penting bagi orang menjaga hutan,” kata Paolus Hadi.

“Ini PR kita bersama bagaimana memperkuat ekonomi masyarakat adat yang menjaga hutan tersebut, karena di Sanggau jumlah orang miskin terbanyak adalah mereka yang tinggal di kawasan hutan karena tidak ada perhatian dan pembangunan yang layak yang dapat mendorong ekonomi mereka,” sambung PH kepada peserta Webinar.

Politikus yang juga seniman Sanggau fenomenal ini menyadari bahwa, tidak semua orang bisa sependapat dengan dirinya.

“Ketika orang bicara ekonomi, selalu hutan yang dikorbankan, itulah yang terjadi selama ini,” ujarnya.

Maka dari itu, Paolus Hadi menyampaikan bahwa pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dengan ekologi. Ia menyebutkan sebelum dirinya menjadi kepala daerah, perkebunan kelapa sawit sudah menjadi investasi terbesar di Kabupaten Sanggau. Sehingga dampak dari investasi ini dari sisi ekonomi menjadi sebuah kebahagiaan, tapi miris untuk ekologinya.

“Satu catatan penting saya adalah pembangunan yang tetap menjaga keseimbangan ekologi, sehingga ada beberapa kebijakan yang saya moratoriumkan salah satunya adalah perizinan perkebunan kelapa sawit,” tuturnya.

Kemudian, Bupati Sanggau dua periode ini memaparkan upaya Pemerintah agar bisa mendorong masyarakat untuk penataan lahan, sebagaimana masyarakat adat juga memiliki kekuasaan atas hutannya.

“Di Sanggau sendiri kami mencoba bagaimana hutan yang dimiliki secara adat itu dikelola semaksimal mungkin untuk tetap dipertahankan fungsinya. Secara De Jure, saat ini Sanggau baru memperoleh pengakuan hutan adat sekitar 2000 Ha lebih dari pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup,” papar PH yang bergabung di Webinar dari rumah dinasnya.

Pada kesempatan yang sama Bupati Sanggau juga mengharapkan keterlibatan kaum perempuan dalam menyuarakan hal ini. Menurutnya kaum perempuan adalah yang paling terdampak saat berubahnya fungsi hutan tersebut.

“Peran serta kaum perempuan saat ini sangat dibutuhkan karena perempuanlah yang merasakan dampak langsung terhadap perubahan fungsi hutan karena akan kesulitan dalam mencari hasil-hasil hutan dan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Jadilah perempan merdeka untuk menyuarakan ini,” ucap PH.

Tak hanya soal hutan yang semakin menipis, faktor lain yang menyebabkan pencemaran lingkungan adalah soal sampah. Bupati menyesalkan masyarakat yang kurang kesadaran soal penanganan sampah. Ia menceritakan sisa banjir yang terjadi di Sanggau menyisakan banyaknya sampah yang berserakan di lokasi banjir kemarin.

“Kalimantan, saya lihat dari sisi Sanggau saja, terjadinya banjir baru-baru ini tidak bisa dipungkiri. Tangkapan air di hulu sudah dangkal, hutan berkurang. Banjir di Sanggau juga terdampak dari sampah yang selalu dibuang ke sungai. Ini sangat miris. Sisa banjir kemarin yang saya lihat di Sanggau adalah sampah. Ini perlu adanya suatu rasa kepedulian dan kesadaran kita bersama karena pemerintah selalu menghimbau agar tidak membuang sampah sembarangan tetapi jika masyarakat tidak mendukung ini maka semuanya sia-sia,” ujar Paolus Hadi.
Penulis : Chris TCG
Editor    : Andi

error: Content is protected !!